Ketika Dilema Melanda
Terkadang, bahkan seringkali manusia dihadapkan pada beberapa pilihan yang kesemuanya memiliki konsekuensi yang harus diemban. Tidak jarang, pilihan tersebut menimbulkan keraguan pada diri kita. Maka, sebagai seorang muslim. Sudah seharusnya kita menjadikan agama kita sebagai pertimbangan utama dalam memilih jalan hidup serta meninggalkan hal-hal yang meragukan dari kacamata syariat.
Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh cucu beliau Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhuma beliau bersabda : “Tinggalkan yang meragukanmu menuju hal yang tidak meragukanmu” (HR Tirmidzi dan Nasa’i, Hasan Shahih).
Seorang mukmin memiliki cahaya dalam hatinya yang bisa membedakan yang baik dan buruk. Semakin dalam ilmu dan pemahaman agama seseorang, maka hatinya akan semakin bersinar dan dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau ditanyakan tentang apa itu kebaikan, kemudian beliau menjawab kepada sang penanya, “Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa yang menentramkan hati dan jiwa, sedangkan dosa adalah apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati meskipun orang-orang memberi fatwa dan membenarkanmu.” (HR. Ahmad dan Ad Darimi, hasan).
Sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Tinggalkan satu hal yang meragukanmu dan pilihlah empat ribu perkara yang tidak membuatmu ragu.” (syarah Arba’in 11 syaikh Shalih Alu Syaikh). Perkataan beliau ini bermakna bahwa perkara yang meragukan kita jumlahnya sedikit, sedangkan perkara yang pasti jumlahnya jauh lebih banyak. Karena itu, kenapa kita harus bersusah payah untuk memilih yang sedikit dan meragukan padahal hal yang pasti jumlahnya sangat banyak.
Seorang tabi’in bernama Hisaan bin Abi Sinaan pernah mengatakan, “Jika saya menghadapi suatu perkara yang meragukan maka sayak akan meninggalkannya dan betapa mudahnya hal itu bagi jiwa.” (Syarah Arba’in 11 syaikh Shalih Ali Syaikh). Inilah gambaran sikap wara’ yaitu meninggalkan hal yanh haram dan masih samar. Sikap ini mudah dilakukan oleh seorang mukmin yang tawadhu’.
Semoga, Alloh senantiasa membimbing kita diatas jalan kebenaran di setiap langkah kita, serta senantiasa memberikan petunjuk yang menuntun kita agar terbebas dari keraguan.
disarikan dari : Buletin At Tauhid edisi 127 -12 Rajab 1428 / 27 Juli 2007 –
Filed under: Nasehat Hati | Leave a Comment
Tags: belajar, dilema, keraguan, muslim, pilihan, Renungan, syubhat














No Responses Yet to “Ketika Dilema Melanda”